Kupas 5 jenis kebiasaan pemicu perselingkuhan

Kupas 5 jenis kebiasaan pemicu perselingkuhan






Kupas 5 jenis kebiasaan pemicu perselingkuhan     dalam sebuah hubungan menjadi aspek penting yang perlu dibangun oleh setiap individu dari pasangan. Terkadang tak mudah menjadikan dua pikiran menjadi satu--terlebih dalam situasi panas--kedua pasangan harus mampu menjadi air untuk meredakan suasana genting.
Sayangnya, tak semua pasangan mampu melalui masalah dalam hubungan dengan tenang. Ketika situasi semakin kacau, ujung-ujungnya salah satu dari pasangan memilih untuk mundur atau perlahan mulai membohongi pasangannya. Kondisi inilah yang memicu terjadinya perselingkuhan.

Pada dasarnya perselingkuhan sering dikaitkan dengan sisi emosi manusia yang sedang tidak stabil. Saat emosi melanda, individu akan mencari cinta dan kasih sayang di tempat lain. Mengutip laman Truth About Deception, ditulis Minggu (21/8/2016) berikut kebiasaan buruk yang memicu perselingkuhan terjadi.Hanya ada dua alasan singkat terjadinya perselingkuhan, pertama merasa kesepian dan kurang komunikasi dan kedua seseorang menemukan sosok yang lebih dari pasangan sebelumnya.




yuk langsung saja kita ikuti ulasanya berikut ini sob semoga kita bisa menghindari hal hal di bawah ini

1. Terbiasa menutup diri.dan tak mau bergaul Akibat masalah yang melanda individu lebih tertutup dan bergantung pada orang lain dan mengabaikan pasangan.
2. Sering lirak-lirik. sana kemari  Berada di sekitar orang yang lebih menarik secara seksual.
3.  Kurangnya waktu kita  dengan pasangan. Terlalu sering menghabiskan banyak waktu di luar dan bertemu dengan orang lain dibandingkan dengan pasangan menjadi pemicu terjadinya perselingkuhan.
4. Merasa selalu kesepian. Saat pasangan sibuk, kondisi ini menjadi rentan dengan rasa kesepian dan mencari seseorang lain.
5. Hobi yang selalu  mabuk-mabukan. Situasi yang dipengaruhi oleh alkohol atau obat-obatan juga bisa menjadi pemicu perselingkuhan.dan ada kebisaan buruk saat kalian bertengkar yang menimbulkan perceraian sob... yuk kita ikuti apa saja kebiasaan itu?

kebiasaan buruk saat bertengkar yang memicu perceraian

Berdebat merupakan salah satu hal yang membuat kehidupan pernikahan sehat, namun seperti juga diketahui, hal tersebut bisa juga berakhir menjadi bencana. Dan hingga saat ini, tidak ada yang benar-benar mengetahui bagaimana membedakan konflik yang sedang terjadi merupakan yang baik atau buruk.
Namun sebuah studi yang dilakukan selama 14 tahun membagikan 4 perilaku yang cenderung muncul ketika berargumen yang hampir selalu mempunyai arti bahwa pasangan tersebut sedang menuju perceraian
Studi ini dibuat olehJohn Gottman, seorang psikolog dariUniversity ofWashington dan pendiri Gottman Institute, bersama psikolog UC Berkeley Robert Levenson. Kedua orang ini mempelajari 79 pasangan dan kebiasaan bertengkar mereka. Mereka bisa memprediksi pernikahan yang mana yang akan berakhir dengan perceraian dengan peluang sebesar 93 persen, seperti dilansir dari lamanThe Stir, Selasa (1/3/2016). 

1. Penghinaan.
Jika hal tersebut terjadi cukup sering, keempat perilaku ini merupakan indikator hancurnya sebuah hubungan.
Perilaku menghina merupakan kebiasan terburuk bagi sebuah hubungan, menurut Gottman. Dia mendeskripsikannya sebagai “sebuah kombinasi jahat antara kemarahan dan rasa muak.” Jika seseorang sudah memperlihatkannya, mereka akan memandang pasangan mereka sebagai orang yang bodoh, tidak layak, atau hal lainnya yang tidak pantas.
Orang dengan perasaan menghina menutup diri mereka dari kebutuhan dan emosional terhadap pasangan mereka. Mereka tidak akan melihat situasi dari perspektif pasangan mereka, yang mana membuat hubungan yang sehat menjadi sangat sulit.
2. Kecaman.
Ketika Gottman berbicara mengenai kecaman, dia berpikir lebih dalam daripada kritik biasa. Kecaman menjadi berbahaya ketika seseorang melakukan kebiasaannya, dan bukannya mencari cara untuk mengubahnya, tapi malah melontarkan pernyataan yang menyerang karakter pasangannya.
Jadi, bukannya meminta pasangannya merubah kebiasaan buruk, seseorang dengan perilaku mengecam akan berpikir, “Mengapa saya menikah dengan tipe orang yang mengupil di tempat umum?!”
3. Defensif.
Dalam suatu hubungan yang sehat, kedua pihak akan bertanggungjawab terhadap hal buruk yang dilakukannya yang menimbulkan situasi buruk. Namun dalam hubungan yang sudah rusak dan menuju perceraian, seseorang akan mengambil sikap bertahan dibandingkan mengakui kesalahannya.
Jadi jika Anda mendengar “Bukan salah saya!” terlalu sering, kemungkinan Anda berada dalam situasi yang buruk.
4. Stonewalling (menutup diri)
Stonewalling adalah istilah yang diberikan Gottman untuk perilaku yang memblokir total seseorang dan menolak berkomunikasi—terutama ketika memang seharusnya berargumen. Stonewalling akan terlihat, seperti mengeluarkan telepon genggamnya untuk mengirim pesan kepada orang lain atau berbalik dan keluar dari ruangan, tanpa ada argumen atau pembelaan atau hasil ketika percakapan sudah mulai menegang.
Tentu saja, beberapa perilaku tersebut merupakan sebuah hal yang alami dalam suatu hubungan—namun jika hal tersebut terjadi terlalu sering (seperti, beberapa kali dalam argumen yang berlangsung 15 menit), hal tersebut akan menjadi sebuah masalah serius.
Namun begitu, jika Anda mampu untuk mengidentifikasi dan mengetahuinya, Anda berada ditempat yang lebih baik dari sebelumnya. Dengan diskusi yang tepat, selalu ada harapan untuk sebuah hubungan menjadi lebih kuat, hanya saja pastikan Anda mencoba melihat dari perspektif pasangan Anda juga.


BACA JUGA  ARTIKEL INI SOB
ya...mungkin hanya itu yang dapat saya sampaikan  mengenai  Kupas 5 jenis kebiasaan pemicu perselingkuhan semoga aartikel ini bermanfaat bagi kita semunaya dan semoga kita di pertemukan di lain kesempatan dengan judul yang berbeda

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »