Ciri Ciri Anak Cerdas | Cara Mendidik Anak Agar Cerdas‎

Jadikan Si Kecil Tangguh Siap Hadapi Masa Depan




Masa depan kini penuh dengan ketidakpastian dan semakin kompetitif. Sehingga untuk memastikan tumbuh kembang si Kecil optimal, ia membutuhkan lebih dari keterampilan dasar dan inteligensi.

Agar ia menjadi kuat dan siap hadapi tantangan serta siap menghadapi masa depan (future ready), si Kecil juga perlu mengembangkan karakter dalam dirinya agar menjadi tangguh, banyak akal, cerdas, gigih, adaptif dan juga mandiri.
Mengapa membangun karakter sejak dini itu penting?

Karakter penting karena kita bisa melihat kenyataan bahwa perkembangan teknologi yang demikian cepat, akselerasi perubahan dalam dunia tanpa batas berdampak pada anak-anak akan bertumbuh dengan cara yang sangat berbeda jika dibandingkan dengan era sebelumnya. Oleh sebab itu anak-anak perlu dibekali dengan penanaman karakter sejak usia dini agar siap menghadapi tantangan di masa depan.

Dengan demikian, anak akan memiliki mental tangguh menghadapi perubahan dan situasi tertentu dalam kehidupan seperti : kegagalan, stress, tantangan, lingkungan baru, dsb.
Berapa usia yang tepat untuk menanamkan karakter pada anak?
Pendidikan & pengembangan karakter anak sebaiknya dilakukan sejak usia dini agar anak tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter. Pada usia 1 hingga 6 tahun, karakter seorang anak mulai terbentuk dan berkembang dengan pengaruh kondisi lingkungan serta pengalaman yang didapat dalam masa pertumbuhannya. Karenanya ibu harus selangkah lebih maju serta bijaksana dalam menerapkan pola asuh yang tepat dan melatih 6 keterampilan dasar yang sangat penting untuk tumbuh kembang optimal anak, yaitu :
Akan tetapi 6 keterampilan dasar tersebut di atas tidak cukup, karena anak juga perlu mengembangkan karakter (soft skills) agar siap menghadapi masa depan.

Karakter apa saja yang penting dikembangkan agar si Kecil siap hadapi masa depan?

Ada 5 karakter yang sebaiknya diasah sejak dini agar anak siap menghadapi masa depan, yakni :
1. Sangat aktif
Anak aktif berbeda dengan anak hiperaktif. Jika dilihat dari aktifitasnya, sekilas memang terlihat hampir sama. Tetapi jika diperhatikan lebih dalam akan tampak perbedaannya. Anak aktif mempunyai fokus perhatian yang baik, lebih sabar, dan suka dengan kegiatan yang butuh banyak gerakan fisik, sedangkan anak hiperaktif biasanya tidak fokus, tidak bisa diam, tidak sabar, dan cenderung agresif.
Masalahnya kini orangtua justru lebih senang apabila anaknya duduk diam dengan bermain gadget atau menonton televisi, daripada melakukan banyak kegiatan fisik. Padahal aktifitas dengan banyak kegiatan fisik sangat baik untuk merangsang kecerdasan anak.
2. Konsentrasi intens
Anak-anak umumnya kesulitan untuk berkonsentrasi dan fokus pada suatu hal. Tetapi anak cerdas mampu berkonsentrasi dengan intens dalam waktu yang lama, dan menyelesaikan pekerjaannya tanpa banyak terpengaruh dengan kondisi di sekitar.
3. Daya ingat kuat
Anak yang cerdas biasanya memiliki ingatan yang kuat terhadap berbagai macam informasi yang pernah dilihat atau didengarnya. Dengan daya ingat yang baik ini nantinya anak akan lebih mudah memahami dan menangkap pelajaran di sekolah. Selain itu daya ingat juga bermanfaat untuk membangun rasa percaya diri dan kemandirian anak.
4. Memiliki kosakata tinggi
Kecerdasan anak juga ditandai dengan penguasaan kosakata yang tinggi. Mereka bisa menggunakan kosakata yang sulit dengan tepat, dan bisa mengucapkannya dalam kalimat yang lengkap. Penelitian juga menemukan bahwa anak-anak dengan kosakata lisan yang baik, akan cenderung lebih cerdas di sekolah.
5. Memperhatikan detail
Kecerdasan anak juga dapat dilihat dari kebiasaannya memperhatikan sesuatu secara detail. Anak cerdas biasanya senang memperhatikan hal-hal detail yang sering dilewatkan oleh orang lain. Dan seringkali mereka selalu ingin tahu bagaimana cara kerja sesuatu secara spesifik.

Diharapkan dengan melakukan stimulasi terhadap ke 5 karakter tersebut, akan membentuk karakter Resiliensi pada anak yang siap menghadapi tantangan (future ready).

Pengembangan karakter anak dapat dilakukan dengan membuat asesmen yang sinergi dengan 6 keterampilan dasar. Asesmen ini diharapkan mudah diterapkan oleh para orang tua dalam kehidupan sehari-hari.

Misalnya untuk mengembangkan karakter mandiri, anak dilatih untuk mengambil sendiri permainan yang diinginkan, memilih buku yang ingin dibacakan, dan sebagainya yang disesuaikan dengan usia anak. Ajak juga si Kecil untuk melakukan aktivitas yang memiliki makna dan tujuan (purposeful exposures), seperti mengajak melakukan kegiatan outdoor agar ia berani mencoba dan mudah beradaptasi dengan aktivitas yang berbeda-beda. Sebaiknya transformasi anak setelah melakukan kegiatan tersebut dapat diukur; misalnya setelah mengikuti flying fox ia tampak senang serta lebih berani mencoba aktivitas permainan yang lain tanpa perlu diminta oleh orangtua.
 Jangan lupa untuk melakukan Positive parenting atau pola pengasuhan yang menghargai sudut pandang anak serta menekankan pada sikap positif. Ini dapat membantu Mama dalam menerapkan disiplin efektif dengan interaksi menyenangkan antara orangtua dan anak. Positive Parenting bisa dilakukan dengan membantu anak merasa bangga atas dirinya dengan menunjukkan sikap positif dan penuh kasih sayang. Seperti memberi pujian saat anak bertindak benar akan memotivasi serta membangun kepercayaan diri, sedangkan menegur anak ketika berbuat kesalahan diterapkan dengan memberikan pengertian mengenai dampak dari tindakan yang dilakukan. Dalam pembentukan disiplin, orang tua perlu mengajarkan dengan konsisten dan memberikan konsekuensi yang jelas.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »